sering kudengar kau bercerita tentang rumah sederhana
begitu sederhana
atapnya hanya jerami
kau pungut satu satu dari ladang
kemudian kususun rapat-rapat
kita berharap takkan ada yang bocor bila nanti hujan
bukan marmar
kita akan gelar tembikar di lantai
tentu aku takkan bertanya darimana engkau mendapatkannya
karna aku yakin itu buah karyamu
sedikit motif bunga, untaian daun waru menjadi unik juga
keindahan tersendiri
yah,, cukup indah sebagai ornamen diantara dinding kulit bambu
keringatku mengucur
sambil menyuguhkan minuman engkau menatapku dalam
sedalam kasih kau tanamkan kebun mawar
di sebelah kanan halaman rumah kita
kubelai rambutmu
kau balik menciumku
katamu " jika engkau lelah tetaplah memelukku, rebahkanlah segala peluh penat di dadaku "
kau menuntunku duduk
besandar ditaman sebuah kursi mungil
cukup untuk kita menghabiskan rinai matahari terbenam
juga menjamu senja yang singgah
petang ini
engkau menciumku
kemudian kupeluk tubuhmu erat
engkau kembali menatap dalam mataku
sebesar kasih yang kau tanam
begitu dalam
dalam
hingga kita sama-sama terpejam
entah gerimis atau hujan
aku terbelalak
sekujur tubuhku kuyup liat
seketika kulari cari tempat teduh
aih,, gerimis
aku tertidur tadi
sejenak tertegun dan kusadar bersendiri
tak kutemukan dirimu selain tetes-tetes air dari dedaunan, ujung rambur atau pelipis dan lekuk wajahku
yah, engkau
pergi....
jauh susuri mimpi
jelajahi congkak jejak waktu
meninggalkan ceritamu
tentang sederhana rumah kita
kembalilah dinda
kebun mawar menanti kita
nanti, esok atau kapanpun
kita nikmati matahari tenggelam bersama senja
bersama cintamu
bersama rumah sederhana kita
Label: puisi